Hot!

Other News

More news for your entertainment
Tampilkan postingan dengan label PILGUB DKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PILGUB DKI. Tampilkan semua postingan

Demokrat harap dapat kesempatan bangun komunikasi dengan PDIP

Nachrowi Ramli. ©2014 Merdeka.com
Ketua DPD Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli berharap partainya memiliki kesempatan membangun komunikasi politik dengan PDIP untuk memutuskan dukungan di putaran dua Pilgub DKI Jakarta. Menurutnya, sebelum memutuskan dukungan, partainya ingin mengetahui visi dan misi dari pasangan calon nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat ( Ahok-Djarot).

"Mudah-mudahan kita bisa dapat kesempatan juga biar tahu juga seperti apa visi-misinya ke depannya," kata Nachrowi usai melakukan pertemuan dengan Forum Ulama dan Habaib (Fuhab) dan paslon nomor urut satu Anies Baswedan- Sandiaga Uno di Jakarta, Kamis (23/2).

Kendati begitu, Nachrowi mengakui jika partainya sudah melakukan komunikasi dengan PDIP. Hanya saja, Demokrat belum mendapat undangan resmi dari PDIP untuk melakukan pertemuan langsung.

"Komunikasi sudah tapi undangan bertemu seperti ini belum. Belum kita laksanakan pertemuannya," ujar dia.

Dia menegaskan bila Partai Demokrat belum menentukan dukungan di putaran dua Pilgub nanti. Dia menuturkan pihaknya masih menunggu sikap atau keputusan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Kita tunggu dari DPP empat ketua umum bertemu seperti apa ke depannya," pungkas Nachrowi.

Sumber : https://www.merdeka.com/politik/demokrat-harap-dapat-kesempatan-bangun-komunikasi-dengan-pdip.html

Pilgub DKI dibumbui kisah cinta Prabowo dan Titiek Soeharto

Anies-Sandi bersama Prabowo dan Titiek Soeharto. ©instagram.com/sandiuno
Perhelatan Pilgub DKI 2017 rupanya tak hanya soal saling sindir, kecam dan serang antar kandidat dan tim sukses. Pemilihan orang nomor satu diJakarta ini rupanya juga dibumbui kisah cinta.

Bukan kisah cinta kandidat di Pilgub DKI, tapi Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Politikus Golkar Titiek Soeharto. Romantisme Prabowo dan Titiek kembali terungkap di tengah panasnya kontestasi Pilgub DKI.

Prabowo dan Titiek Soeharto diketahui makan malam bersama pada Rabu (22/2) malam kemarin. Pasangan Cagub DKI Anies Baswedan dan Cawagub DKI Sandiaga Uno yang memicu romantisme Prabowo dengan Titiek ini terjadi.

Prabowo membawa Partai Gerindra mengusung Anies-Sandi di Pilgub DKI 2017. Rupanya, Titiek 'satu hati' dengan Prabowo soal pemimpin Jakarta. Meski Golkar mendukung Ahok- Djarot, Titiek tak peduli. Putri Presiden kedua Soeharto itu lebih pilih dukung Anies-Sandi seperti Prabowo.

Kisah cinta Prabowo dan Titiek memang selalu menjadi sorotan media. Karena perpisahan keduanya bukan seperti cerai sepasang suami istri pada umumnya. Prabowo dan Titiek terpaksa berpisah akibat panasnya kondisi politik pasca kerusuhan Mei 1998.

Hal ini mulanya terungkap dari unggahan Sandiaga Uno di akun Instagramnya. Bersama Anies-Sandi, Titiek terlihat berpose dengan menunjukkan tiga jari, sebagai ciri khas pasangan Anies-Sandi di Pilgub DKI. Anies pun akui pertemuan antara dirinya, Sandiaga, Prabowo dan Titiek itu. Pertemuan dilakukan di rumah Titiek kawasan Menteng.

"Mbak Titiek bukan orang yang baru kenal, sudah lama. Sebenarnya sudah lama diniatkan hanya karena waktunya enggak bisa sebelum tanggal 15, setelah tanggal 15 Rabu malam baru bisa," kata Anies saat ditemui di kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara, Jumat (24/2).

Anies tak menapik dalam agenda makan malam tersebut ada pembicaraan terkait Pilgub DKI Jakarta putaran kedua. Namun Anies mengatakan, pembahasan Pilgub DKI bukan menjadi agenda utama acara silaturahim yang berlangsung selama 2 jam itu. 

"Tentulah, masa enggak ngobrolin pilkada. Tapi itu bukan agenda utama, kalau saya bilang enggak ngobrolin sama sekali bohong lah. Pasti tanya gimana strateginya, gimana ke depannya tapi itu bukan tema utama," ungkap Anies. 

Titiek rela melawan keputusan partai. Karena hal itu, bahkan anggota DPR tersebut rencananya bakal dipanggil oleh Partai Golkar.

"Terkait adnaya dugaan Ibu Titiek Soeharto mendukung Anies Sandi. Sesuai denagan disiplin partai kami perlu mengklarifikasi dulu kepada yang bersangkutan, kami akan meminta penjelasan yang bersangkutan," katanya di Kantor DPP Golkar, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (24/2).

Dia mengungkapkan, nantinya akan ada kebijakan DPP setelah mendengarkan penjelasan dari Titiek Soeharto. Namun, Sekretaris Tim Pemenangan Ahok-Djarot ini mengaku, tidak dapat memastikan sanksi apa yang mungkin akan diberikan kepada mantan istri Prabowo Subianto itu.

"Kita akan selesaikan secara internal. Sudah biasa dinamika politik internal. Kami akan mendapatkan klarifikasi dulu, lalu nanti dibahas dalam rapat internal partai. Tidak bisa mengambil keputusan secara tiba-tiba ada tahapan," tutupnya.

Sumber : https://www.merdeka.com/politik/pilgub-dki-dibumbui-kisah-cinta-prabowo-dan-titiek-soeharto.html (JMP/ML)

Begini tahapan Pilgub DKI 2017 putaran kedua

Debat pilgub DKI 2017. ©2017 Merdeka.com/muhammad luthfi rahman
KPU DKI Jakarta tengah melakukan pengumpulan data hasil pencoblosan Pilgub DKI pada 15 Februari 2017. Namun, sejumlah hasil hitung cepat menyatakan, Pilgub DKI akan berlangsung dua putaran antara pasangan Basuki T Purnama ( Ahok) - Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan - Sandiaga Uno.

Anggota KPU DKI Jakarta, Betty Epsilon Idroos mengatakan, KPU DKI baru akan mengumumkan hasil Pilgub DKI 15 Februari pada 25 sampai 27 Februari nanti. Dari hasil itu, baru KPU akan menentukan apakah ada putaran kedua atau tidak di Pilgub DKI 2017.

"Setelah kita tetapkan bahwa tanggal 25 selesai misalnya penghitungan suara, lalu kita tunggu apakah ada pasangan calon mengajukan permohonan sengketa 3 hari setelah penetapan, kalau tidak ada, tanggal 4 Maret, kita menetapkan apakah ada putaran kedua atau tidak," kata Betty saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (22/2).

Menurut dia, di putaran dua juga ada tahapan kampanye, namun tidak lama seperti putaran pertama. Dia juga mengatakan, putaran kedua, tidak ada lagi pengundian nomor urut calon.

"Kalau misalnya, tanggal 4 Maret diumumkan berarti tanggal 7 Maret mulai kampanye sampai tanggal 16 April. 19 April pencoblosan," tutur dia.

Betty menegaskan, tahapan tersebut baru perkiraan, karena belum ada hasil resmi dari pencoblosan 15 Februari lalu. 

"Intinya tahapan yang akan kita lakukan adalah kampanye, ada kegiatan perbaikan data pemilih, apakah ada putaran kedua, kemudian hari H pemungutan suara, diperkirakan 19 April," tutup dia.

KH Noer Iskandar: Kalau Ahok Dukung Islam, Ya Harus Dipilih

PPP kub Djan Faridz dukung Ahok (Ahmad Ziaul/detikcom)

Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kiai Haji Noer Muhammad Iskandar mendukung keputusan PPP kubu Djan Faridz yang mendukung pasangan cagub-cawagub Basuki Tjahja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Menurut kiyai Noer, Ahok-Djarot perlu didukung di Pilgub DKI Jakarta.

Kiai Noer memaparkan alasan mengapa pasangan Ahok-Djarot harus didukung. Menurutnya, siapapun pemimpinnya tidak boleh melarang umat muslim beribadah.

"Dalam konteks hukum Islam itu ada orang yang dilarang dipilih. Kalau orang itu mengahalang-halangi kita untuk ibadah. Ada pemimpin melarang salat, melarang haji, itu nggak boleh. Kalau yang dibilang pak Djan Faridz tadi, dukungan kepada Islam ya Alhamdulillah," kata Kiyai Noer saat menghadiri Konferensi Pers di Kantor PPP Jl Dipenogoro, Jakarta Pusat, Senin (20/2/2017).

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum PPP Djan Faridz memilih setia di haluan Ahok-Djarot di Pilgub DKI. Menurut Djan, Ahok memiliki kepedulian terhadap umat muslim.

"Adalah beliau itu banyak berbuat banyak untuk umat Islam. Makanya saya ini biar bagaiamanapun saya akan berjuang sekeras-kerasnya bersama sahabat Partai Persatuan Pembangunan beserta ulama-ulama kita untuk tetap mendukung beliau," ucap Djan.

Selain itu, Kiai Noer mengatakan hal senada dengan Djan. Pihaknya mendukung Ahok-Djarot untuk melanjutkan menjadi gubernur DKI Jakarta.

"Jadi sebagai kiai yang banyak punya santri saya berterima kasih. Sekali lagi, dalam Islam pemimpin tidak boleh dipilih yang melarang ibadah. Kalau dia mendukung itu harus didukung harus dipilih," pungkas Kiyai Noer. 

PPP minta Polri selidiki pengumpulan dana TemanAhok

Stan TemanAhok. ©2015 Merdeka.com/Ferrika Lukmana Sari
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP Arsul Sani menyoroti kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yayasan Keadilan Untuk Semua (KUS) yang menyeret Ketua Umum Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir. Arsul mengatakan banyak kasus pengumpulan dana masyarakat yang luput dari penanganan Polri.

Salah satunya, dana yang dikumpulkan Teman Ahok demi pemenangan Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat di Pilgub DKI. Teman Ahok kerap mengajak pendukung Ahok untuk berkontribusi, salah satunya dengan dukungan dana. Arsul meminta Polri menyelidiki praktik pengumpulan dana publik untuk kepentingan tertentu.

"Secara terbuka ada pertanyaan dari masyarakat kenapa kok yang kemudian yang disidik dana publik termasuk Yayasan Keadilan Untuk Semua, mengapa dana publik yang dikumpulkan sebut saja Teman Ahok itu sidik atau tidak itu juga menjadi pertanyaan publik juga," kata Arsul di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/2).

Kasus serupa yang harus diselidiki Polri adalah pengumpulan dana yang dilakukan retail Alfamart untuk kegiatan-kegiatan sosial.

"Ada pengumpulan dana dalam bentuk tidak mengembalikan uang kembalian atau belanja di Alfamart dan kemudian oleh Alfamart yang memang disampaikan untuk sumbangan berbagai kegiatan sosial," katanya.

Arsul mendapat laporan dari konsumen soal kejanggalan uang sumbangan yang dikumpulkan Alfamart. Konsumen itu, kata dia, meminta penjelasan kepada Alfamart terkait peruntukan dana sosial itu. Namun, konsumen itu menemukan sumbangan itu disalurkan ke yayasan tertentu tetapi untuk program coorporate sosial responsibility (CSR).

"Dan ini menimbulkan perselisihan ada seorang konsumen yang menyumbang meminta penjelasan kepada Alfamart kemana saja uang-uang itu dipergunakan. Karena penyumbang ini saudara Mustolis Siradj merasa ketika membaca laporan yang ada di website Alfamart menemukan keganjilan sumbangan itu disalurkan ke yayasan tertentu tetapi untuk CSR," katanya.

"Padahal itu bukan dana perusahaan, itu dana pengumpulan dari masyarakat konsumen Alfamart karena tidak dikembalikan dibawah Rp 500 kemudian terkumpul sampai puluhan miliar," katanya

Megawati sebut kemenangan Ahok tanda kebhinekaan RI masih cukup kuat

Rapat konsolidasi DPD PDIP se-Indonesia. ©2017 merdeka.com/anisatul umah
Merdeka.com - Pilgub DKI antara Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)- Djarot Saiful Hidayat kemungkinan besar berlangsung dua putaran. Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri sebagai pihak yang mengusung Ahok-Djarot menegaskan akan melakukan lobi ke partai pengusung Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dalam Pilpres 2014.

"Akibat harus melaksanakan putaran kedua, kita juga melobi partai yang saat pemilu presiden ada di putaran KIH," kata Megawati saat memberikan sambutan dalam rapat konsolidasi dengan DPD PDIP se-Indonesia di Kantor DPP PDIP, Jl Diponegoro,Jakarta Pusat, Selasa, (21/02).

Menurut Megawati, dari wujud kemenangan Pilkada DKI, menunjukkan kekuatan kebhinekaan Indonesia masih cukup kuat. Megawati mengungkapkan NKRI terbentuk karena persatuan dan kesatuan, bukan karena hal yang diupayakan pihak yang melakukan penekanan yang tidak sewajarnya dilakukan.


"Dari wujud bentuk kemenangan, sementara saya hanya bicara DKI, kekuatan kebhinekaan kita masih sangat besar," pungkasnya.

Jelang putaran kedua Pilgub, Ahok & Anies saling serang soal banjir

ahok anies. ©2017 Merdeka.com
Pilgub DKI putaran dua akan diselenggarakan pada 19 April 2017 mendatang. Tensi politik ibu kota pun kembali memanas.

Calon Gubernur DKI nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama dan nomor urut 3, Anies Rasyid Baswedan mulai saling serang. Kali ini, persoalan banjir yang dijadikan bahan untuk saling sindir.

Anies menuding calon petahana belum merampungkan persoalan banjir, terlihat dari beberapa wilayah di DKI yang masih digenangi air belakangan ini lantaran curah hujan yang cukup tinggi.

"Dikira udah bebas banjir ya? artinya memang kita harus lebih objektif dalam menilai perkembangan selama ini. Kadang-kadang kita menganggap itu enggak ada masalah, semua masalah sudah selesai semua padahal masih banyak masalah yang ada," kata Anies di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta, Kamis (16/2).

"Karena itu kenapa kita menawarkan perubahan karena kita ingin agar berbagai terobosan itu bisa dilakukan lebih cepat nanti kita lihat," sambungnya.

Menurut Anies, untuk mengatasi banjir di Jakarta harus melibatkan semua pihak. Anies menegaskan, dirinya dan Sandi telah memiliki konsep agar Jakarta terbebas dari banjir.

Saat meninjau lokasi banjir di Bukit Duri, Anies mengaku tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi banjir kali ini, pasalnya ia belum menduduki kursi orang nomer satu di DKI.

"Saat ini saya belum menjadi gubernur jadi belum bisa berbuat langsung," ungkapnya.

Ia pun mempertanyakan program normalisasi yang dinilainya mandek 3 tahun. "Masa mandek 3 tahun. 3 tahun mandek, apa sebabnya saya belum tahu tapi laporannya 3 tahun berhenti," ucap Anies.

Menjawab sindiran Anies, Ahok menuding jika mantan Rektor Universitas Paramadina itu tidak mengerti matematika.

"Ah gak usah ngomong lah, capek jadi politik. Kamu ngerti matematik enggak sih? dari dua ribuan (titik banjir) jadi 400 an, dari 400 tinggal 80, kalau itu normalisasi enggak bener, apakah bisa turun tinggal 80?," kata Ahok, di Bukit Duri, Jakarta Selatan, Senin (20/2).

Ahok menambahkan, jika program normalisasi tidak benar berarti orang-orang yang tergabung dalam Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerja Umum, bukanlah orang-orang pintar.

"Kalau normalisasi enggak bener, berarti seluruh orang-orang di negeri ini salah semua pak, PU pusat pinter-pinter merancang ini, berarti salah semua. Profesor juga banyak loh disana," ujar Ahok.

"Sekarang kalo dari 2.000 berkurang jadi 80 berarti berhasil, kalau dari duit lu 2.000 jadi 80 perak itu gagal. Kalau duit berkurang itu gagal, tapi kalau bencana berkurang berarti berhasil, dong," tandas Ahok.